Peran guru dalam proses pembelajaran tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah materi yang akan diberikan kepada anak didiknya, tetapi juga ia dituntut untuk menguasai berbagai metode dan teknik pembelajaran guna menunjang pencapaian tujuan  pembelajaran. Tujuan penggunaan metode dalam proses pembelajaran menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1993:232) adalah “untuk menjadikan proses dan hasil belajar mengajar lebih berdayaguna dan berhasilguna dan menimbulkan motivasi serta gairah belajar pada siswa”.

Fungsi penggunaan metode dalam proses pembelajaran menurut Purwanto (1998:131) ialah “mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada siswa untuk belajar berdasarkan motivasi, serta mendorong kerjasama guru dengan siswa dalam proses pembelajaran”. Di samping itu, menurut Tafsir (1994:42) fungsi lain dari metode pembelajaran adalah “memberi inspirasi pada anak didik melalui proses hubungan yang serasi antara guru dan siswa yang seiring dengan tujuan pembelajaran”.

Metode pembelajaran merupakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis dalam kegiatan pembelajaran yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan oleh guru agar siswa mengetahui, memahami, menghayati dan meyakini materi yang diberikan, serta siswa dapat meningkatkan keterampilan olah pikir. Hasil yang diharapkan dari penggunaan metode pembelajaran adalah membuat perubahan sikap dan motivasi siswa dalam belajar.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran menurut Uwes (1991:56) adalah:

1. Tujuan pendidikan

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “untuk apa” pendidikan itu dilaksanakan. Tujuan Pendidikan mencakup tiga aspek yaitu aspek kognitif (pembinaan akal pikiran, seperti kecerdasan, kepandaian, daya nalar), aspek afektif (pembinaan hati, seperti pengembangan rasa, kalbu dan rohani) dan aspek psikomotorik (pembinaan jasmani, seperti badan sehat, mempunyai keterampilan).

2. Anak didik

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “untuk siapa” dan bagaimana tingkat kematangan, kesanggupan, kemampuan yang dimilikinya.

3. Situasi

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” serta kondisi lingkungan yang mempengaruhinya.

4. Fasilitas

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “di mana” dan “bilamana” termasuk juga berbagai fasilitas dan kuantitasnya.

5. Pribadi pendidik

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “oleh siapa” serta kompetensi dan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

Sementara, Muhaimin dan Abdul Mujib (1993:234-240) mengemukakan asas-asas yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran sebagai berikut.

Pertama, asas motivasi; pendidik harus berusaha membangkitkan motivasi anak didiknya sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat pada bahan pelajaran yang sedang disajikan. Kedua, asas aktivitas; dalam proses belajar mengajar, anak didik harus diberikan kesempatan untuk aktif dalam pengajaran yang akan diberikan, secara individu  maupun kolektif. Asas ini menghindari adanya verbalistik bagi anak didik. Ketiga, asas apersepsi; mengalami dalam proses belajar berarti menghayati suatu situasi aktual yang sekaligus menimbulkan respons-respon tertentu dari pihak anak didik sehingga memperoleh perubahan pola tingkah laku (pematangan dan kedewasaan), perubahan dalam perbendaharaan konsep-konsep (pengertian) dan kekayaan akan informasi. Asas apersepsi bertujuan menghubungkan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan apa yang telah dikenal oleh anak didik. Keempat, asas peragaan; dalam asas ini, guru memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan (model-model), sehingga anak didik dapat mengamati dengan jelas dan pembelajaran lebih tertuju untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kelima, asas ulangan; asas yang merupakan usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar anak didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap setelah mengikuti pelajaran sebelumnya, mengingat penguasaan pengetahuan mudah terlupakan oleh anak didik jika dialami sekali atau diingat setengah-setengah. Oleh karena itu, pengetahuan yang sering diulang-ulang akan menjadi pengetahuan yang tetap berkesan dalam ingatan dan dapat difungsikan dengan baik. Keenam, asas korelasi; peristiwa belajar mengajar adalah menyeluruh, mencakup berbagi dimensi yang kompleks. Guru hendaknya memandang anak didik sebagai sejumlah daya-daya yang dinamis yang senantiasa ada dalam keadaan berinteraksi dengan dunia sekitar untuk mencapai tujuan. Hal ini yang menyebabkan anak didik dalam menerima pelajaran bersifat selektif kemudian bereaksi mengelolanya. Itulah sebabnya dalam setiap pembelajaran, guru harus menghubungkan suatu bahan dengan bahan pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat. Asas korelasi akan menimbulkan asosiasi dan apersepsi dalam kesadaraan dan sekaligus membangkitkan motivasi anak didik terhadap mata pelajaran. Ketujuh, asas konsentrasi; yaitu asas yang memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran serta memperhatikan anak didik dalam segala aspeknya. Asas ini dapat diupayakan dengan memberikan masalah yang menarik seperti masalah yang baru muncul. Kedelapan, asas individualisasi; yaitu asas yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individu, baik pembawaan dan lingkungan yang meliputi seluruh pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak, intelegensi, bakat serta lingkungan yang mempengaruhinya. Aplikasi asas ini adalah guru dapat mempelajari pribadi setiap anak, terutama tentang kepandaian, kelebihan, serta kekurangan dan memberi tugas sebatas dengan kemampuannya. Kesembilan, asas sosialisasi; yaitu asas yang memmperhatikan penciptaan suasana sosial yang dapat membangkitkan semangat kerjasama antara anak didik dengan guru atau sesama anak didik dan masyarakat sekitarnya. Dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna dan berhasil guna, guru dapat memfungsikan sumber-sumser fasilitas dari masyarakat untuk kepentingan pembelajaran dengan cara membawa anak didik untuk karyawisata, survey, pengabdian kepada masyarakat, dan perkemahan (school camping). Kesepuluh, asas evaluasi; memperhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki anak didik sebagai feed-back bagi guru dalam memperbaiki cara mengajar. Asas evaluasi tidak hanya diperuntukan bagi anak didik, tetapi juga bagi guru yaitu sejauhmana keberhasilannya dalam melaksanakan tugasnya. Kesebelas, asas kebebasan; yaitu asas yang memperhatikan kekuasaan, keinginan dan tindakan bagi anak didik dengan dibatasi oleh kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang positif. Asas ini mengandung tiga aspek yaitu self-directednees, self-discipline dan self- control.

Asas lainnya yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1993) adalah:

Asas lingkungan, asas pusat-pusat motivasi, asas keteladanan, asas globalisasi dan asas pembiasaan”. Asas lingkungan, yaitu asas yang menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan. Asas pusat-pusat motivasi, yaitu asas yang memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap ke sesuatu hal yang berharga bagi seseorang. Sesuatu berharga apabila sesuai dengan kebutuhan. Asas ketauladanan, yaitu kecenderungan belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang di sekitarnya. Asas globalisasi, yaitu asas sebagai akibat dari pengaruh psikologi totalitas yaitu anak didik bereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial, dan sebagainya. Serta, asas pembiasaan, yaitu asas yang memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh anak didik. Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak didik.

Asas-asas yang dikemukakan di atas adalah aspek-aspek yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh guru dalam merencanakan dan menetapkan metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dahlan (1989:30) mengemukakan bahwa “metode apa pun yang dipergunakan dalam pembelajaran, apakah itu ceramah, tanya jawab, diskusi, drill dan lain sebagainya, selayaknya yang harus diperhatikan adalah orientasinya pada pembangkitan sikap dan motivasi belajar serta peningkatan disiplin belajar siswa”.

Disiplin Belajar Siswa

Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas kepribadian muslim (akhlakul karimah) peserta didik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Paraba (1999:5) mengemukakan bahwa “materi pendidikan agama Islam di sekolah meliputi tujuh unsur pokok, yaitu: keimanan, ibadah, Al Qur’an, akhlak, syariah, muamalah dan tarikh”. Pemberian materi-materi pendidikan agama Islam tersebut diarahkan untuk memberikan bekal pengetahuan kepada peserta didik agar meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Guru PAI mempunyai peran dan fungsi penting dalam mewujudkan tujuan pemberian pendidikan agama tersebut kepada siswa. Oleh karena itu, guru PAI dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan dan kualitas dirinya dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya sebagai pendidik. Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh guru PAI sesuai dengan kedudukan dan fungsinya sebagai pendidikan adalah bagaimana menumbuhkan kedisiplinan kepada siswa, karena masalah kedisiplinan merupakan salah satu faktor penting yang harus ditanamkan ke dalam diri siswa untuk membentuk kepribadian siswa yang akhlakul karimah.

Pada hakikatnya disiplin itu bagian dari pendidikan, karena tanpa disiplin tidak akan ada pendidikan dan pendidikan merupakan satu proses yang perlu dibiasakan pelaksanaannya, seperti norma‑norma yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Kaitan antara disiplin dan pendidikan ialah bahwa disiplin yang semula sebagai prasyarat dalam proses pendidikan (belajar) pada akhimya akan menjadi baku dan membudaya sehingga selanjutnya disiplin itu merupakan hasil dari pendidikan.

Dalam sikap dan tindakannya, manusia dituntut untuk dapat membina dan menegakkan tiga jenis disiplin, yakni displin diri, disiplin sosial, dan disiplin nasional. Sikap ini merupakan sikap mental yang tidak muncul dengan sendirinya melainkan melalui suatu proses yang panjang dimulai sejak kanak‑kanak sampai dewasa.

Apabila di analisa, menurut Surya (2002:108) disiplin mengandung beberapa unsur, unsur tersebut adalah adanya sesuatu yang harus ditaati atau ditinggalkan (peraturan, tata. tertib, undang‑undang atau norma) dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal di atas.

Dalam kaitan belajar, disiplin merupakan prasyarat utama untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Tanpa disiplin yang kuat maka kegiatan belajar hanya merupakan aktivitas yang kurang bernilai, tanpa mempunyai makna dan target apa-apa. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan disiplin belajar adalah hal penting yang harus dilakukan dalam rangka mencapai keberhasilan belajar.

Di samping itu, pemberian keteladanan dari guru dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal lain yang penting dalam menumbuhkan disiplin belajar bagi siswa. Keteladanan guru dalam hal disiplin merupakan salah satu “senjata ampuh” dalam membimbing dan mengarahkan siswa agar disiplin dalam belajar.

Disiplin dalam belajar penting artinya bagi kegiatan belajar, suasana yang menyenangkan dapat menumbuhkan kegairahan belajar, sedangkan suasana yang kacau, ramai, tak tenang, dan banyak gangguan sudah tentu tidak menunjang kegiatan belajar yang efektif. Karena guru dan siswa senantiasa dituntut agar menciptakan suasana lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan, menantang dan menggairahkan. Hal ini berarti bahwa disiplin belajar turut menentukan motivasi, kegiatan, keberhasilan  belajar siswa.

Keberhasilan guru dalam menjalankan fungsinya untuk menumbuhkan kedisiplinan kepada siswa dapat dilihat dari pendapat siswa sebagai feedback untuk mengevaluasi pelaksanaan fungsi guru dimaksud. Pendapat siswa ini dapat bersifat positif dan juga dapat negatif. Sikap siswa yang menerima, menyukai, memandangnya sebagai sesuatu yang memotivasi dirinya, dan perhatian pada guru, merupakan indikator dari pendapat positif siswa terhadap guru. Sedangkan sikap siswa yang menghindar, menolak, acuh tak acuh, dan tidak menyukai keberadaan guru, merupakan indikator dari pendapat siswa yang negatif terhadap guru (Purwanto, 1998:171).

Adapun tugas guru dalam pendidikan Islam, menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1999) adalah sebagai pengajar (instruksional), pendidik (educator) dan sebagai pemimpin (managerial). Dalam konteks tugas guru sebagai pendidik, maka guru mempunyai peran untuk mengarahkan anak didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insan kamil seiring dengan tujuan Allah menciptakannya. Dalam peran inilah, penanaman kedisiplinan kepada siswa merupakan salah satu tugas utama guru dalam proses pendidikan. Upaya guru untuk menumbuhkan kedisiplinan kepada siswa dengan merujuk kepada pendapat Muhaimin dan Abdul Mujib (1999) dapat dirumuskan dalam indikator: kedisiplinan siswa dalam belajar, dalam beribadah, dalam memanfaatkan waktu, serta ketaatan dan kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah.

Dari uraian di atas nampak bahwa upaya menumbuhkan disiplin siswa dalam proses pembelajaran mempunyai peran penting dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran dan turut menentukan prestasi belajar siswa.

About these ads