Peran guru dalam proses pembelajaran tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah materi yang akan diberikan kepada anak didiknya, tetapi juga ia dituntut untuk menguasai berbagai metode dan teknik pembelajaran guna menunjang pencapaian tujuan  pembelajaran. Tujuan penggunaan metode dalam proses pembelajaran menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1993:232) adalah “untuk menjadikan proses dan hasil belajar mengajar lebih berdayaguna dan berhasilguna dan menimbulkan motivasi serta gairah belajar pada siswa”.

Fungsi penggunaan metode dalam proses pembelajaran menurut Purwanto (1998:131) ialah “mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada siswa untuk belajar berdasarkan motivasi, serta mendorong kerjasama guru dengan siswa dalam proses pembelajaran”. Di samping itu, menurut Tafsir (1994:42) fungsi lain dari metode pembelajaran adalah “memberi inspirasi pada anak didik melalui proses hubungan yang serasi antara guru dan siswa yang seiring dengan tujuan pembelajaran”.

Metode pembelajaran merupakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis dalam kegiatan pembelajaran yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan oleh guru agar siswa mengetahui, memahami, menghayati dan meyakini materi yang diberikan, serta siswa dapat meningkatkan keterampilan olah pikir. Hasil yang diharapkan dari penggunaan metode pembelajaran adalah membuat perubahan sikap dan motivasi siswa dalam belajar.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran menurut Uwes (1991:56) adalah:

1. Tujuan pendidikan

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “untuk apa” pendidikan itu dilaksanakan. Tujuan Pendidikan mencakup tiga aspek yaitu aspek kognitif (pembinaan akal pikiran, seperti kecerdasan, kepandaian, daya nalar), aspek afektif (pembinaan hati, seperti pengembangan rasa, kalbu dan rohani) dan aspek psikomotorik (pembinaan jasmani, seperti badan sehat, mempunyai keterampilan).

2. Anak didik

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “untuk siapa” dan bagaimana tingkat kematangan, kesanggupan, kemampuan yang dimilikinya.

3. Situasi

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” serta kondisi lingkungan yang mempengaruhinya.

4. Fasilitas

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “di mana” dan “bilamana” termasuk juga berbagai fasilitas dan kuantitasnya.

5. Pribadi pendidik

Faktor ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “oleh siapa” serta kompetensi dan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

Sementara, Muhaimin dan Abdul Mujib (1993:234-240) mengemukakan asas-asas yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran sebagai berikut.

Pertama, asas motivasi; pendidik harus berusaha membangkitkan motivasi anak didiknya sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat pada bahan pelajaran yang sedang disajikan. Kedua, asas aktivitas; dalam proses belajar mengajar, anak didik harus diberikan kesempatan untuk aktif dalam pengajaran yang akan diberikan, secara individu  maupun kolektif. Asas ini menghindari adanya verbalistik bagi anak didik. Ketiga, asas apersepsi; mengalami dalam proses belajar berarti menghayati suatu situasi aktual yang sekaligus menimbulkan respons-respon tertentu dari pihak anak didik sehingga memperoleh perubahan pola tingkah laku (pematangan dan kedewasaan), perubahan dalam perbendaharaan konsep-konsep (pengertian) dan kekayaan akan informasi. Asas apersepsi bertujuan menghubungkan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan apa yang telah dikenal oleh anak didik. Keempat, asas peragaan; dalam asas ini, guru memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan (model-model), sehingga anak didik dapat mengamati dengan jelas dan pembelajaran lebih tertuju untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kelima, asas ulangan; asas yang merupakan usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar anak didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap setelah mengikuti pelajaran sebelumnya, mengingat penguasaan pengetahuan mudah terlupakan oleh anak didik jika dialami sekali atau diingat setengah-setengah. Oleh karena itu, pengetahuan yang sering diulang-ulang akan menjadi pengetahuan yang tetap berkesan dalam ingatan dan dapat difungsikan dengan baik. Keenam, asas korelasi; peristiwa belajar mengajar adalah menyeluruh, mencakup berbagi dimensi yang kompleks. Guru hendaknya memandang anak didik sebagai sejumlah daya-daya yang dinamis yang senantiasa ada dalam keadaan berinteraksi dengan dunia sekitar untuk mencapai tujuan. Hal ini yang menyebabkan anak didik dalam menerima pelajaran bersifat selektif kemudian bereaksi mengelolanya. Itulah sebabnya dalam setiap pembelajaran, guru harus menghubungkan suatu bahan dengan bahan pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat. Asas korelasi akan menimbulkan asosiasi dan apersepsi dalam kesadaraan dan sekaligus membangkitkan motivasi anak didik terhadap mata pelajaran. Ketujuh, asas konsentrasi; yaitu asas yang memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran serta memperhatikan anak didik dalam segala aspeknya. Asas ini dapat diupayakan dengan memberikan masalah yang menarik seperti masalah yang baru muncul. Kedelapan, asas individualisasi; yaitu asas yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individu, baik pembawaan dan lingkungan yang meliputi seluruh pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak, intelegensi, bakat serta lingkungan yang mempengaruhinya. Aplikasi asas ini adalah guru dapat mempelajari pribadi setiap anak, terutama tentang kepandaian, kelebihan, serta kekurangan dan memberi tugas sebatas dengan kemampuannya. Kesembilan, asas sosialisasi; yaitu asas yang memmperhatikan penciptaan suasana sosial yang dapat membangkitkan semangat kerjasama antara anak didik dengan guru atau sesama anak didik dan masyarakat sekitarnya. Dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna dan berhasil guna, guru dapat memfungsikan sumber-sumser fasilitas dari masyarakat untuk kepentingan pembelajaran dengan cara membawa anak didik untuk karyawisata, survey, pengabdian kepada masyarakat, dan perkemahan (school camping). Kesepuluh, asas evaluasi; memperhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki anak didik sebagai feed-back bagi guru dalam memperbaiki cara mengajar. Asas evaluasi tidak hanya diperuntukan bagi anak didik, tetapi juga bagi guru yaitu sejauhmana keberhasilannya dalam melaksanakan tugasnya. Kesebelas, asas kebebasan; yaitu asas yang memperhatikan kekuasaan, keinginan dan tindakan bagi anak didik dengan dibatasi oleh kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang positif. Asas ini mengandung tiga aspek yaitu self-directednees, self-discipline dan self- control.

Asas lainnya yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1993) adalah:

Asas lingkungan, asas pusat-pusat motivasi, asas keteladanan, asas globalisasi dan asas pembiasaan”. Asas lingkungan, yaitu asas yang menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan. Asas pusat-pusat motivasi, yaitu asas yang memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap ke sesuatu hal yang berharga bagi seseorang. Sesuatu berharga apabila sesuai dengan kebutuhan. Asas ketauladanan, yaitu kecenderungan belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang di sekitarnya. Asas globalisasi, yaitu asas sebagai akibat dari pengaruh psikologi totalitas yaitu anak didik bereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial, dan sebagainya. Serta, asas pembiasaan, yaitu asas yang memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh anak didik. Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak didik.

Asas-asas yang dikemukakan di atas adalah aspek-aspek yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh guru dalam merencanakan dan menetapkan metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dahlan (1989:30) mengemukakan bahwa “metode apa pun yang dipergunakan dalam pembelajaran, apakah itu ceramah, tanya jawab, diskusi, drill dan lain sebagainya, selayaknya yang harus diperhatikan adalah orientasinya pada pembangkitan sikap dan motivasi belajar serta peningkatan disiplin belajar siswa”.

Disiplin Belajar Siswa

Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas kepribadian muslim (akhlakul karimah) peserta didik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Paraba (1999:5) mengemukakan bahwa “materi pendidikan agama Islam di sekolah meliputi tujuh unsur pokok, yaitu: keimanan, ibadah, Al Qur’an, akhlak, syariah, muamalah dan tarikh”. Pemberian materi-materi pendidikan agama Islam tersebut diarahkan untuk memberikan bekal pengetahuan kepada peserta didik agar meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Guru PAI mempunyai peran dan fungsi penting dalam mewujudkan tujuan pemberian pendidikan agama tersebut kepada siswa. Oleh karena itu, guru PAI dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan dan kualitas dirinya dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya sebagai pendidik. Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh guru PAI sesuai dengan kedudukan dan fungsinya sebagai pendidikan adalah bagaimana menumbuhkan kedisiplinan kepada siswa, karena masalah kedisiplinan merupakan salah satu faktor penting yang harus ditanamkan ke dalam diri siswa untuk membentuk kepribadian siswa yang akhlakul karimah.

Pada hakikatnya disiplin itu bagian dari pendidikan, karena tanpa disiplin tidak akan ada pendidikan dan pendidikan merupakan satu proses yang perlu dibiasakan pelaksanaannya, seperti norma‑norma yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Kaitan antara disiplin dan pendidikan ialah bahwa disiplin yang semula sebagai prasyarat dalam proses pendidikan (belajar) pada akhimya akan menjadi baku dan membudaya sehingga selanjutnya disiplin itu merupakan hasil dari pendidikan.

Dalam sikap dan tindakannya, manusia dituntut untuk dapat membina dan menegakkan tiga jenis disiplin, yakni displin diri, disiplin sosial, dan disiplin nasional. Sikap ini merupakan sikap mental yang tidak muncul dengan sendirinya melainkan melalui suatu proses yang panjang dimulai sejak kanak‑kanak sampai dewasa.

Apabila di analisa, menurut Surya (2002:108) disiplin mengandung beberapa unsur, unsur tersebut adalah adanya sesuatu yang harus ditaati atau ditinggalkan (peraturan, tata. tertib, undang‑undang atau norma) dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal di atas.

Dalam kaitan belajar, disiplin merupakan prasyarat utama untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Tanpa disiplin yang kuat maka kegiatan belajar hanya merupakan aktivitas yang kurang bernilai, tanpa mempunyai makna dan target apa-apa. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan disiplin belajar adalah hal penting yang harus dilakukan dalam rangka mencapai keberhasilan belajar.

Di samping itu, pemberian keteladanan dari guru dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal lain yang penting dalam menumbuhkan disiplin belajar bagi siswa. Keteladanan guru dalam hal disiplin merupakan salah satu “senjata ampuh” dalam membimbing dan mengarahkan siswa agar disiplin dalam belajar.

Disiplin dalam belajar penting artinya bagi kegiatan belajar, suasana yang menyenangkan dapat menumbuhkan kegairahan belajar, sedangkan suasana yang kacau, ramai, tak tenang, dan banyak gangguan sudah tentu tidak menunjang kegiatan belajar yang efektif. Karena guru dan siswa senantiasa dituntut agar menciptakan suasana lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan, menantang dan menggairahkan. Hal ini berarti bahwa disiplin belajar turut menentukan motivasi, kegiatan, keberhasilan  belajar siswa.

Keberhasilan guru dalam menjalankan fungsinya untuk menumbuhkan kedisiplinan kepada siswa dapat dilihat dari pendapat siswa sebagai feedback untuk mengevaluasi pelaksanaan fungsi guru dimaksud. Pendapat siswa ini dapat bersifat positif dan juga dapat negatif. Sikap siswa yang menerima, menyukai, memandangnya sebagai sesuatu yang memotivasi dirinya, dan perhatian pada guru, merupakan indikator dari pendapat positif siswa terhadap guru. Sedangkan sikap siswa yang menghindar, menolak, acuh tak acuh, dan tidak menyukai keberadaan guru, merupakan indikator dari pendapat siswa yang negatif terhadap guru (Purwanto, 1998:171).

Adapun tugas guru dalam pendidikan Islam, menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1999) adalah sebagai pengajar (instruksional), pendidik (educator) dan sebagai pemimpin (managerial). Dalam konteks tugas guru sebagai pendidik, maka guru mempunyai peran untuk mengarahkan anak didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insan kamil seiring dengan tujuan Allah menciptakannya. Dalam peran inilah, penanaman kedisiplinan kepada siswa merupakan salah satu tugas utama guru dalam proses pendidikan. Upaya guru untuk menumbuhkan kedisiplinan kepada siswa dengan merujuk kepada pendapat Muhaimin dan Abdul Mujib (1999) dapat dirumuskan dalam indikator: kedisiplinan siswa dalam belajar, dalam beribadah, dalam memanfaatkan waktu, serta ketaatan dan kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah.

Dari uraian di atas nampak bahwa upaya menumbuhkan disiplin siswa dalam proses pembelajaran mempunyai peran penting dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran dan turut menentukan prestasi belajar siswa.

untuk soal-soal latihan ujian teori PAI SMK silakan download pada link ini http://www.4shared.com/file/102380393/a868c8bf/Latihan_soal_US_teori_AGAMA.html

A. Pendahuluan

Rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Salah salah satu ciri manusia berkualitas dalam rumusan UU No. 20 Tahun 2003 di atas adalah mereka yang tangguh iman dan takwanya serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian salah satu ciri kompetensi keluaran pendidikan nasional adalah ketangguhan dalam iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia.

Menurut Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam, kompetensi iman dan takwa (imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Jadi, dalam pandangan Islam, peran kekhalifahan manusia dapat direalisasikan melalui tiga hal, yaitu:
1) landasan yang kuat berupa iman dan takwa
2) Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
3) akhlak mulia

Dengan demikian, menurut Wahid (2007), dalam Islam tidak dikenal dikotomi antara imtak dan iptek, namun justru sebaliknya perlu keterpaduan antara keduanya, karena Alquran dan Assunah sesungguhnya tidak membedakan antara ilmu agama Islam dengan ilmu-ilmu umum. Yang ada dalam Alquran adalah ilmu. Pembagian adanya ilmu agama Islam dan ilmu umum merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber objek kajiannya.

Ilmu-ilmu tersebut pada hakikatnya berasal dari Allah SWT, karena sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam jagat raya, manusia dengan perilakunya, alam pikiran, dan intusi batin seluruhnya ciptaan Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian para ilmuwan dalam berbagai bidang keahlian tersebut sebenarnya bukanlah pencipta ilmu, tapi penemu ilmu, penciptanya adalah Tuhan. Atas dasar paradigma tersebut, seluruh ilmu hanya dapat dibedakan dalam nama dan istilahnya, sedangkan hakikat dan substansi ilmu tersebut sebenarnya satu dan berasal dari Tuhan. Atas dasar pandangan ini, maka tidak ada dikotomi yang mengistimewakan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.

Dikotomi antara ilmu agama Islam dengan ilmu umum pun terjadi dalam dunia pendidikan. Pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dianggap sebagai representasi ilmu agama Islam, sedangkan pelajaran-pelajaran lainnya dianggap sebagai ilmu-ilmu umum. Akibat dari itu semua adalah adanya beban yang sangat berat bagi guru yang mengajar pelajaran pendidikan agama Islam, yaitu seolah-olah sebagai penanggung jawab ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan doktrin agama.

Berkaitan dengan pengembangan imtak dan akhlak mulia maka yang perlu dikaji lebih lanjut ialah peran pendidikan agama, sebagaimana dirumuskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Pendidikan keagamaan merupakan salah satu bahan kajian dalam semua kurikulum pada semua jenjang pendidikan, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Pendidikan Agama merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh peserta didik bersama dengan Pendidikan Kewarganegaraan dan yang lainnya.

Tantangan yang dihadapi dalam Pendidikan Agama, khususnya Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagaimana mengimplementasikan pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan peserta didik agar memiliki kualitas iman, taqwa dan akhlak mulia. Dengan demikian materi pendidikan agama bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun mereka berada, dan dalam posisi apapun mereka bekerja.
Maka saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan oleh para guru Pendidikan Agama Islam untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran agamanya, mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk akhlak dan kepribadiannya.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah dengan Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL). Sehubungan dengan hal tersebut maka makalah ini akan membahas pendekatan kontekstual dalam pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai salah satu alternatif model dalam pengembangan pembelajaran PAI di sekolah.

B. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran PAI

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penguasaan guru akan materi dan pemahaman mereka dalam memilih metode yang tepat untuk materi tersebut akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Salah satu metode yang saat ini dianggap tepat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah melalui pendekatan kontekstual.

Salah satu unsur terpenting dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah pemahaman guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kontekstual di dalam kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukkan sedikitnya pemahaman guru-guru PAI mengenai strategi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu model pengajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para guru Pendidikan Agama Islam di dalam kelas secara sederhana.

Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok (Badruzaman, 2006).

Jawahir (2005) mengemukakan bahwa guru PAI dapat menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, yaitu: a) memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa; b) lebih mengaktifkan siswa dan guru; c) mendorong berkembangnya kemampuan baru; d) menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.
Melalui pembelajaran ini, siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan para guru Pendidikan Agama Islam dalam mengimplementasikan pendekatan kontestual, menurut Humaidi (2006) adalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran Berbasis Masalah

Langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah mengobservasi suatu fenomena, misalnya : a) menyuruh siswa untuk menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, tentang Alam Akhirat, azab Ilahi , dan sebagainya; b) menyuruh siswa untuk melaksanakan shaum pada hari senin dan kamis, membayar zakat ke BAZ, mengikuti sholat berjamaah di masjid, mengikuti ibadah qurban, menyantuni fakir miskin

Langkah kedua yang dilakukan oleh guru adalah memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul, misalnya: a) setelah menonton VCD atau mendengarkan kisah-kisah Al Qur`an, siswa diharuskan membuat catatan tentang pengalaman yang mereka alami, melalui diskusi dengan teman-temannya; b) setelah mengamati dan melakukan aktivitas keagamaan siswa diwajibkan untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul serta mereka dapat mengungkapkan perasaannya kemudian mendiskusikan dengan teman sekelasnya.

Langkah ketiga tugas guru Pendidikan Agama Islam adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada.

Langkah keempat guru diharapkan mampu untuk memotivasi siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat yang berbeda dengan mereka.

2. Memanfaatkan Lingkungan Siswa untuk Memperoleh Pengalaman Belajar

Guru memberikan penugasan kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan konteks lingkungan siswa, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penugasan kepada siswa di luar kelas. Misalnya mengikuti sholat berjamaah, mengikuti sholat jum`at, mengikuti kegiatan ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren untuk mewawancarai santri atau ustadz yang berada di pesantren tersebut. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dari kegiatan yang mereka lakukan mengenai materi yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.

3. Memberikan Aktivitas Kelompok

Di dalam kelas guru PAI diharapkan dapat melakukan proses pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Siswa di bagi kedalam beberapa kelompok yang heterogen. Aktivitas pembelajaran kelompok dapat memperluas perspektif dan dapat membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru dalam mempraktekan metode ini adalah: 1) Mendatangkan ahli ke kelas, misalnya Tokoh Agama, Santri atau Ulama dari pesantren, 2) Bekerja dengan kelas sederajat, 3) Bekerja dengan kelas yang ada di atasnya.

4. Membuat Aktivitas Belajar Mandiri

Melalui aktivitas ini, peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi sendiri dengan sedikit bantuan atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).

5. Menyusun Refleksi

Dalam melakukan refleksi, misalnya ketika pelajaran berakhir siswa merenungkan kembali pengalaman yang baru mereka peroleh dari pelajaran tentang sholat berjama`ah, puasa senin-kamis, membayar zakat, menyantuni fakir miskin, dan seterusnya.
Melalui perenungan ini, siswa dapat lebih menemukan kesadaran dalam dirinya sendiri tentang makna ibadah yang mereka lakukan dalam hubungan mereka sebagai hamba Allah dan dalam hubungan mereka sebagai makhluk sosial.

C. Penutup

Penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI sebagai alternatif model dalam pengembangan pembelajaran PAI di sekolah, sesungguhnya merupakan upaya untuk lebih meningkatkan peran pendidikan agama di sekolah dalam rangka membentuk peserta

Letak pentingnya penerapan pendekatan kontekstual sebagai dalam pembelajaran PAI didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut:

Pertama, Mata pelajaran PAI merupakan salah satu mata pelajaran pokok dari sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa, yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik serta memiliki akhlak mulia dalam kehidupannya sehari-hari. Sejauh ini para guru berpandangan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang harus dihapal, sehingga pelajaran PAI cukup disampaikan dengan ceramah sehingga pembelajaran di kelas selalu berpusat pada guru. Dengan pendekatan kontekstual diharapkan siswa bukan sekedar objek akan tetapi mampu berperan sebagai subjek, dengan dorongan dari guru mereka diharapkan mampu mengkonstruksi pelajaran dalam benak mereka sendiri, jadi siswa tidak hanya sekedar menghapalkan fakta-fakta, akan tetapi mereka dituntut untuk mengalami dan akhirnya menjadi tertarik untuk menerapkannya.

Kedua, Melalui pendekatan kontekstual diharapkan siswa dibawa ke dalam nuansa pembelajaran yang di dalamnya dapat memberi pengalaman yang berarti melalui proses pembelajaran yang berbasis masalah, penemuan (inquiri), independent learning, learning community, proses refleksi , pemodelan sehingga dari proses tersebut diharapkan mereka dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya.

Ketiga, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sesuai dengan tuntutan kurikulum 2006 harus memenuhi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga aspek tersebut harus dikembangkan secara terpadu dalam setiap bidang kajian agama, seperti akidah, syariah dan akhlak. Melalui pendekatan kontekstual yang dibangun dengan berbagai macam metode, guru Agama Islam dapat memilih bagian mana yang cocok untuk aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.

Melalui penerapan model ini, diharapkan dapat membantu para guru agama dalam mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang benar-benar mempunyai kualitas keberagamaan yang kuat yang dihiasi dengan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Badruzaman, Ahmad. 2006. Strategi dan Pendekatan dalam Pembelajaran. Ar Ruuz, Yogyakarta.
Humaidi, M.K. 2006. Model-Model Pembelajaran Kreatif. Rosdakarya, Bandung.
Jawahir, Mochamad. 2005. Teknik dan Strategi Pembelajaran. Cendekia Press, Bandung.
Tafsir, Ahmad. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Rosdakarya, Bandung.
Wahid, Abdul. 2007. Pengajaran Terpadu PAI dengan Pelajaran Umum. Pikiran Rakyat 1 Mei 2007 kolom Forum Guru.

by, Deni Saepul Hayat

Iklan merupakan suatu penerapan strategi pemasaran yang sangat efektif dalam memperkenalkan produk suatu perusahaan kepada masyarakat. Iklan suatu perusahaan atau produk perusahaan melalui berbagai media, seperti televisi, koran, majalah, radio, internet, maupun melalui media sederhana seperti leaflet, spanduk, baliho, dan lain sebagainya memang akan sangat membantu perusahaan dalam mensosialisasikan diri dan produk usahanya kepada masyarakat atau calon konsumen.

Dalam perkembangannya, pengemasan iklan suatu produk dalam berbagai bentuk media sangat menarik untuk dicermati. Pengemasan iklan terutama dalam penggunaan bahasa iklan merupakan salah satu ciri perusahaan dalam upaya mengadaptasikan diri dengan lingkungan atau dengan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Secara logika awam, saat ini banyak produk iklan yang pengemasannya terkesan “tidak nyambung” dengan produk yang diiklankan, seperti iklan produk rokok, terutama setelah ada larangan atau lebih tepatnya himbauan pemerintah agar perusahaan rokok tidak memasang iklan produknya secara ‘vulgar’. Jika dulu sebelum ada himbauan pemerintah, iklan rokok ditampilkan lengkap dengan orang yang lagi merokok produk yang lagi diiklankan, maka sekarang iklan rokok disampaikan melalui pencitraan (brain image) produk rokok tersebut dengan suatu situasi fantasi atau keindahan suatu tempat, seperti ungkapan “Not Mild Full Taste” untuk produk rokok Inspiro, “Full of Imagination” untuk produk rokok Djarum Black, “Bukan Basa Basi” untuk produk rokok Sampoerna A Mild, “Pesona Parahyangan” untuk produk rokok Djarum Coklat, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan tersebut pada awal diperkenalkan kepada masyarakat akan sedikit membuat kening kita berkernyit, apa maksudnya ini?

Pengemasan produk iklan seperti dicontohkan di atas sesungguhnya secara logika sangat menarik, karena di samping menampilkan sosok perusahaan yang cerdas dalam mengadaptasi perubahan juga menuntut masyarakat untuk berfikir atau menggunakan logikanya dalam menangkap pesan yang disampaikan. Pengemasan iklan produk rokok di atas mungkin dilakukan dengan tujuan untuk membangun segmen pasar dari produk tersebut (anak muda, orang tua, dan seterusnya), atau dilakukan dengan pertimbangan segmentasi wilayah pasar dari produk tersebut dimana produk itu sangat laku pada wilayah dimaksud.

Contoh pengemasan produk iklan lainnya yang menarik untuk dicermati dalam perspektif logika adalah pengemasan iklan mini (classified ads) dalam koran atau majalah. Kolom iklan mini dalam koran atau majalah yang biasa disebut sebagai iklan murah, penggunanya kebanyakan adalah masyarakat umum atau kalangan usaha skala menengah kecil. Iklan-iklan yang ditampilkan biasanya berkisar pada iklan penjualan barang-barang bekas maupun baru seputar alat-alat elektronik, kendaraan, rumah, tanah, dan sebagainya.

Hal yang menarik untuk dicermati dalam konteks iklan mini tersebut adalah penggunaan bahasa yang disampaikan dalam kolom tersebut, karena biasanya iklan mini dikemas dalam bentuk singkatan kata-kata atau lebih tepatnya pemenggalan-pemenggalan huruf (yang dalam kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah tidak benar) dengan pertimbangan biaya iklan lebih ekonomis karena harga iklan mini dihitung perbaris, seperti “Jl. Mrh Hnd Bbk mls skl kil sed.” Iklan tersebut terdiri dari sekumpulan huruf mati yang sulit untuk dibaca. Namun, kalau sudah biasa dan sering ditemukan, secara otomatis kita akan jadi hafal dan mengerti dengan sendirinya. Memang, untuk yang pertamakali membaca, cukup pusing juga. Bagaimana tidak, jangkan untuk dimengerti, dibacanya pun cukup sulit. Untuk bisa membaca dan mengerti apa yang dimaksud iklan mini tersebut harus dengan teknik. Tekniknya menurut T.B. Muhammad Achyar (PR, 8 Oktober 2003) cukup dengan perasaan dan rasa bahasa dengan menggunakan metode “Kirpan” (dikira-kira dan dipapantes). Nah sekarang setelah kita mengerti, kita pun akan ketawa sendiri, maksud dari iklan mini yang dicontohkan itu adalah “Jual murah Honda Bebek mulus sekali kilometer sedikit”. Di sini sekali lagi kita dituntut untuk menggunakan logika atau daya fikir kita untuk menangkap pesan dalam iklan mini tersebut. ***

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!